bertahun-tahun yang lalu, tulisan fiksi saya tentang janda dimuat di salah satu buku kumpulan cerita.

rupanya, tulisan itu masih relevan dengan kondisi saat ini. bahwa seorang janda masih mendapatkan stigma negatif di masyarakat, meskipun dia menjadi janda karena suaminya meninggal, bukan bercerai.

dulu, saya mendengar seorang wanita paruh baya yang menjadi bahan pergosipan para tetangga karena menikah lagi beberapa tahun setelah suaminya meninggal.

beberapa hari lalu, saya mendengar seorang wanita muda yang mengalami hal yang sama. usianya sekitar 30 tahun, menjadi janda karena suaminya meninggal setelah satu tahun menikah, dan mereka belum dikaruniai anak.

ketika dia akan menikah lagi dan “hanya” melangsungkan akad nikah, tanpa ada syukuran atau resepsi, warga berbisik-bisik, “ya iyalah, malu nikah sama janda..”

hati saya sungguh terkoyak saat mendengarnya, meskipun saya tak mengenalnya. kenapa seorang janda harus mendapatkan perlakuan berbeda dengan seorang duda?

ketika duda menikah lagi, tak ada yg membicarakan mengenai ketidakpantasannya. warga mahfum, seorang laki-laki butuh pendamping, butuh seorang istri untuk melayaninya.

tapi apakah itu berarti seorang janda tak berhak menginginkan seseorang untuk melindunginya, menafkahinya, memberikannya keturunan, dan sebagainya?

sebegitu hinakah seorang wanita yg menikah untuk kedua kalinya, atau kesekian kalinya? sebegitu lemahnyakah mereka karena tak ingin melanjutkan hidup sendiri seperti kebanyakan janda lainnya?

ah, semoga para janda dikuatkan mendengar semua perkataan yang tak manusiawi ini..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *