“kalau kamu ketemu sama dia gimana ya?”

suatu ketika, suami menanyakannya. bagaimana reaksi saya jika tiba-tiba bertemu dengan seseorang dari masa lalu saya? ga usah sebut nama ye, hihihihi…

saat itu, saya tidak bisa menjawab, karena… saya belum bisa memaafkannya. apakah saya pendendam? mungkin begitu. sekian tahun berlalu dan saya masih merasa sakit hati seakan baru saja mengalaminya.

lalu saya teringat satu kisah yang pernah diceritakan oleh suami. satu kisah kebetulan yang sangat luar biasa tidak terduga. dia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. iya, cewek lah, bukan cowok.

kenapa saya bilang itu kebetulan yang sangat luar biasa tidak terduga?

karena saat mereka saling mengenal, menjalin hubungan, mengakhiri hubungan, hingga memiliki keluarga masing-masing, mereka tidak pernah tinggal di kota yang sama.

a long-distance-friendship, a long-distance-relationship, n a long-distance-memory, hahaha…

enam tahun kemudian, pada suatu hari, dua manusia yang tinggal di pulau berbeda, terpisah entah ratusan atau ribuan mil itu (ga bisa ngitung, hiks..), saling bertatap muka di antara ratusan manusia yang akan terbang dalam burung besi yang sama. arah yang sama, waktu yang sama. nomor seat yang berbeda, tentunya.

bisa dibayangkan apa yang ada dalam benak masing-masing saat pesawat mulai lepas landas. pasti ada sekelebat kenangan yang muncul, ihiy ihiy… saat turun dari pesawat, mereka bercengkerama seperti dua teman lama yang bertemu. apa kabar suami, apa kabar istri, apa kabar anak, apa kabar pekerjaan, dan sebagainya.

persamaan kami adalah: kami melalui perpisahan yang menyakitkan. perbedaannya: entah bagaimana suami bisa memaafkan seseorang yang menyakitinya.

jujur saja, saya ingin memaafkan sejak dulu, tapi adaaa saja godaan untuk tidak melakukannya. gile bo’, ga ada enak-enaknya nyeret sekarung sakit hati selama bertahun-tahun… tapi mo dibuang juga karungnya nyangkut terus.

hingga beberapa minggu yang lalu, saya tidak sengaja mendengar saat kakak ipar berkata,

“nggak pa-pa, nanti insyaAllah balasannya untuk anakku.”

tidak masalah seperti apa kita disakiti, tidak perlu membalasnya. insyaAllah anak kita kelak yang akan mendapatkan semua balasan atas kesabaran kita. insyaAllah anak kita akan dimudahkan jalannya, dan tidak akan disakiti seperti kita.

dan ternyata, begitu mudahnya.

anak.

satu kata tentangnya mampu menguapkan dendam saya dalam hitungan detik. what a big big big superpower in her little body!

membayangkan dia tidak akan mengalami hal-hal buruk yang pernah saya alami, that’s what i call… priceless!

tiap saya mengalami hal yang menyakitkan hati, saya akan langsung berdoa, semoga kelak anak cucu saya akan mengalami hal yang lebih baik. hey, it works!

saat ini, jika suami atau siapapun menanyakan hal itu kembali, saya akan menjawab, “aku sudah siap melakukan penerbangan bersama masa lalu.” hahahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *