“kumi?”

wanita di kursi 8B mengangkat kepala sambil membetulkan letak kacamata, mencari asal suara yang memanggilnya. kurasa dia masih mengenaliku.

“hai! nomor berapa?” senyum lebar segera menghiasi bibirnya.
“18F.” aku membalas senyumnya. sebisa mungkin terlihat wajar.

seorang bapak yang kesulitan memasukkan koper membuatku terjebak disini. wanita yang baru saja kupanggil kumi itu bertanya lagi, “ntar dijemput?”

“nggak,” sahutku cepat. “mau naik damri.”
“bareng yuk. aku juga ga dijemput nih…”
“boleh…” aku tersenyum, merasa lega karena akhirnya si bapak sudah duduk dan aku bisa bergerak.

kumi melambaikan tangannya, tersenyum ramah. seramah senyum yang membuatku jatuh cinta tujuh tahun yang lalu.

11, 12, 13… akhirnya 18. kuhempaskan badan ke tempat duduk. tangan dan kakiku terasa lemas. harus segera memasang sabuk pengaman sebelum aku benar-benar lumpuh.

baiklah, aku terlalu berlebihan…

tapi, ini benar-benar perjalanan yang tidak pernah kubayangkan. coba dihitung, berapa probabilitas bertemu dengan mantanmu di dalam satu pesawat? keterangan tambahan: kalian tidak pernah bertemu selama enam tahun, dan kalian tinggal di pulau yang berbeda.

enam tahun… dan ternyata aku belum bisa bersikap wajar.

entah berapa lama waktu yang kuhabiskan dengan melamun. tiba-tiba pemandangan di luar jendela bukan lagi rumput dan landasan. kuhabiskan waktu 40 menit selanjutnya untuk merancang sebuah percakapan yang wajar saat kami bertemu di darat nanti, tapi yang ada di pikiranku malah penggalan kisah-kisah masa lalu. parah nih otak!

kupejamkan mata, berusaha menanamkan satu informasi yang sangat penting. bahwa dia sudah bersuami.

jantungku semakin berdegup kencang. aku merasa tidak sanggup menghadapi pembicaraan nanti. apa aku kabur saja ya? aku bisa naik taksi, atau ojek, lalu naik bis dari terminal.

tapi apa aku tidak akan menyesal? apa mungkin ini sebuah kesempatan untuk menyelesaikan perjalananku dengan masa lalu?

kulihat dia menungguku di depan pintu kedatangan.

“ada bagasi?”
“nggak.”
“yuk.”

kami menghabiskan dua puluh menit pertama di ruang tunggu damri. informasi yang kudapatkan hanya tentang dia yang pulang kampung karena adiknya akan menikah, dan anak-anaknya yang sudah dibawa pulang terlebih dahulu oleh kakek-nenek karena dia hanya mendapat jatah cuti tiga hari.

kurang lebih enam puluh menit berikutnya, kami membahas masa kini. dimana kami tinggal, bagaimana pekerjaan, bagaimana kabar keluarga. dan aku masih tetap harus menjawab pertanyaan yang sama.

“sudah nikah belum sih?”

lalu penilaian lanjutan.

“kok belum? ayo nikah, jangan cari duit terus. ntar kalau duit udah banyak, malah bingung karena nggak tahu mau buat siapa…”

well…

“tapi udah ada calonnya kan?”

yah, mungkin buatmu, hidup terus berjalan. kamu tidak perlu lagi menjawab semua pertanyaan yang baru saja kamu tanyakan. tidak perlu lagi membela diri jika ada orang menilaimu secara salah, seperti kamu menilaiku.

aku bukan mengejar karir, ataupun mewujudkan mimpi. hanya saja, perjalananku masih berhenti disini. masih di detik ketika kamu memegang tanganku dan meminta maaf.

aku memaafkanmu yang meninggalkanku. mungkin, aku hanya belum bisa memaafkan diriku yang tidak mampu mempertahankanmu.

“doain aja ya… insyaallah udah ada calonnya. ntar datang ya sama keluarga, kenalin ke aku sekalian.”

dan aku merekam senyummu saat ini. mungkin untuk yang terakhir kalinya.

2 Replies to “menyelesaikan perjalanan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *