dulu, saat masih berstatus pengantin baru dan tinggal terpisah dengan suami, banyak teman kantor yang menasihati agar tinggal seatap.
sekarang, saat sudah tinggal seatap, banyak istri teman suami yang mengatakan, “tinggal tunggu giliran pisah sama suami.”

what the…?!

sebagai istri dari seorang pegawai negeri yang menandatangani surat-kesediaan-untuk-dilemparkan-ke-seluruh-pelosok-tanah-air, isu mengenai mutasi selalu ramai dibicarakan. dinanti dan dibenci. semua orang berharap ditempatkan di kampung halaman, alias kota tempat orang tua mereka tinggal.

jika kota yang dituju tidak sesuai keinginan, banyak yang mengambil keputusan untuk berpisah. suami berangkat ke kota yang tercantum di surat penugasan, istri dan anak tinggal bersama orang tuanya. alasannya kurang lebih sama: demi anak.

saya masih kurang bisa memaklumi alasan ini. demi anak? bukankah anak akan lebih merasa bahagia, tentram, dan damai bersama ayah dan ibunya? lalu?

saya pernah menanyakan tentang ini, dan memperoleh jawaban: “kalau masih kecil sih nggak pa-pa mbak ikut bapaknya… tapi kalau sudah sekolah repot ngurus pindahannya. kasihan pindah-pindah terus. mending menetap, tinggal sama mbahnya.”

repot? bukankah punya anak memang repot?

sejak meringkuk di dalam perut, bikin repot saat beraktivitas. tidur ga nyaman, bersih-bersih rumah sebentar sudah ngos-ngosan.

ketika anak lahir, repot mengurusnya. mandi, pipis, pup, menyusu, menangis terus, sebentar-sebentar bangun pula. belum belasan popok kotor setiap harinya. ibu jadi susah beristirahat.

ketika anak mulai bisa bergerak sendiri, repot mengawasinya. ibu baru duduk, anak sudah merangkak entah kemana dan menjatuhkan barang-barang. ibu ke kamar mandi, anak benjol karena terjatuh saat belajar berjalan.

ketika anak sudah mulai bisa berkomunikasi, repot meladeninya. maunya ini itu, membantah orang tua, keinginan harus dituruti.

ketika anak masuk usia sekolah, repot mencarikan sekolah.
ketika anak beranjak remaja, repot menjaganya agar terhindar dari pergaulan bebas.
ketika anak beranjak dewasa, repot mendoakan agar segera mendapat pekerjaan.
lalu mempersiapkan pernikahan.
lalu membantu mengasuh cucu.
dan seterusnya.

setiap tahap perkembangan, orang tua akan mengalami repotnya membesarkan anak. dan itu maksudnya: selamanya.

selama kita mempunyai anak, kita akan mengalami kerepotan. tapi kita tetap bersedia menjalaninya, bukan? satu jenis kerepotan berupa mengurus pindah sekolah menurut saya tidak akan terlalu berpengaruh.

demi anak, agar merasakan hidup bersama kedua orang tuanya.
demi anak, agar tumbuh dengan pola asuh sesuai kesepakatan orang tua.
demi anak, agar bisa mendapatkan gambaran sebuah rumah tangga yang kokoh. selalu saling mendampingi sepanjang hidup.

yah, mungkin ini hanya sebatas teori yang berkembang di dalam benak saya. saya belum pernah mengalami punya anak yang sudah sekolah. saya hanya pernah melihat orang tua saya repot mengurus anak-anak pindah sekolah saat ayah saya dipindahkan ke kota lain.

saya bersedia melakukannya suatu saat kelak dengan tujuan yang sama. agar keluarga tetap utuh bersatu.

alasan lain yang sering saya dengar adalah menemani orang tua. bagaimana dengan ayah dan ibu yang semakin tua? apakah tega meninggalkan mereka? bagi saya, ada banyak pemecahan untuk masalah ini. bisa mengajak orang tua tinggal bersama kita, atau kita mengunjungi mereka secara rutin, atau mempercayakan mereka pada “tangan-tangan” yang tepat. toh saat ini saluran komunikasi lancar. telepon, video call, atau apalah.

tidak ada yang namanya mantan anak atau mantan orang tua. dimanapun kita berada, bagaimanapun kita hidup, hubungan anak dan orang tua akan tetap abadi. beda halnya dengan rumah tangga. jika kita tidak merawat hubungan tersebut, akan muncul mantan suami dan mantan istri.

selain itu, ada alasan tidak ada sekolah yang bagus di kota tempat suami ditugaskan. menurut saya, pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. di rumah, kita sebagai orang tua juga bisa memberikan pelajaran tambahan bagi anak. bukankah saat ini banyak buku dan informasi di internet? tidak ada alasan anak tidak pintar karena alasan sekolah “jelek”.

saya hanya berpikir simpel. siapa yang mencari nafkah? ayah. ayah bekerja sejak pagi hingga petang demi menghidupi keluarga. pulang dalam keadaan lelah, kadang kurang enak badan, kadang stress karena beban kerja. apa yang bisa menghiburnya? anak, yang pasti. rasa lelah akan terlupakan saat masuk ke rumah disambut senyuman anak istri, bukannya ruang yang kosong.

ada satu kisah teman suami yang membuat saya sedih. sang anak yang masih kecil menelepon ayahnya saat tengah malam. dia menemukan ibunya “tiduran” di kamar mandi dan tidak mau dibangunkan. dia dan sang ibu tinggal berdua di jawa, sementara sang ayah di sulawesi. akhir cerita, saat sang ayah pulang, ibu berpulang.

kita tak pernah tahu berapa sisa umur kita. saya hanya tahu, saya ingin menghabiskannya dengan berbuat yang terbaik dan terbijak untuk keluarga.

semoga.

One Reply to “long distance rumour”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *